Friday, November 27, 2015

SAFARI DAKWAH HABIB MUHAMMAD AL JUNEID

Profil Singkat
Habib Muhammad Al Juneid
(Hadramaut , Yaman )


Terlahir pada tahun 1965 di Hadhra­maut, Habib Muhammad Al Juneid melewati masa kecil yang kurang beruntung. Saat mema­suki usia bersekolah, negerinya kala itu tengah dalam cengkeraman penguasa komunis, yang sangat membatasi ruang gerak para ulama. Rubath-rubath (lem­baga-lembaga pendidikan agama) di kota Tarim maupun kota-kota lainnya di Hadh­ramaut tak boleh beraktivitas.
Akibatnya, ia pun melewati pendi­dik­an dari masa kecil hingga remajanya ha­nya di madrasah umum di kota kelahir­an­nya itu. Bahkan selepas pendidikan se­tingkat SLTA, ia sempat ikut pelatihan wa­jib militer selama tiga tahun. Di sela-sela waktunya, bila situasinya memungkinkan, ia menyempatkan diri menghadiri majelis ilmu di tempat Habib Masyhur Bin Hafidz, kakanda Habib Umar Bin Hafidz (seorang ulama kharismatik terkemuka di Negeri Timur Tengah)
Langkah kaki Habib Muhammad be­rikutnya mengantarkannya hingga sam­pai ke Ukraina. Di sana, selama enam ta­hun, ia menjadi mahasiswa di negeri yang saat itu menjadi salah satu negara bagian Uni Soviet itu. Ilmu kimia, itulah jurusan yang dipilihnya hingga ia lulus dan menggondol gelar sarjana sebagai se­orang insinyur ilmu kimia.
Selepas pendidikan di Ukraina, tahun 1993, ia kembali ke tanah kelahirannya dan mengabdikan diri sebagai salah se­orang tenaga pengajar pada sebuah insti­tusi pendidikan di sana. Tentunya, dalam bi­dang studi yang telah digelutinya sela­ma bertahun-tahun di Ukraina, yaitu ilmu kimia. Saat itu negerinya, Yaman Selatan, telah bersatu dengan Yaman Utara, dan hingga kini gabungan dua negara menye­but negara mereka sebagai Republik Yaman.
Kesungguhannya dalam belajar dan perjalanan hidupnya yang akrab dengan dunia akademis membuatnya memiliki kemampuan berbagai bahasa dunia se­cara aktif. Setidaknya, selain bahasa Arab tentunya, ia menguasai dengan baik ba­hasa Inggris, bahasa Rusia, dan bahasa Spanyol. Karena saat ini ia sering bolak-balik Hadhramaut-Jakarta dan kemudian memiliki banyak aktivitas di sini, yaitu da­lam kapasitasnya sebagai mudir di Maje­lis Muwasholah Antar Ulama Muslimin, tak mustahil bila ke depannya ia dapat pula berkomunikasi dalam bahasa Indo­nesia.

0 komentar:

Post a Comment